Sunday, 13 February 2011

Download Ccleaner 2011

CCleaner yang merupakan Utilities untuk Sistem Windows Anda yang memiliki berbagai macam fungsi mulai membersihkan sintem Windows hingga unisntall.
Update terbaru di CCleaner 3.02
  • Improved IE history cleaning for Windows 7, to deal with some persistent history entries.
  • Added import and export Cookie to Keep list.
  • Added cleaning for CloneCD, Ashampoo Burning Studio 10 and ExamDiff.
  • Added confirmation dialog when canceling wiping process in Drive Wiper.
  • Improved file size accuracy when analyzing and cleaning.
  • Improved cleaning for Windows Live Messenger, Antivir Desktop and ImgBurn.
  • And more…
Download di Ccleaner 2011

Dibayar Lunas Dengan Segelas Susu

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.

Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.

Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?”

Wanita itu menjawab, “Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan”, kata wanita itu menambahkan.

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata, “Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda.”

Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Horward Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.

Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut dan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali keruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.. ..Wanita itu sembuh!! 

Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. 

Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa Ia tak akan mampu menbayar tagihan tesebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihantersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi..”Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu!!” tertanda, Dr Horward Kelly. 

Air mata kebahagian membanjiri matanya. Ia berdoa: “Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.” 

Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) 
Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq’alaih) 

Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)

Snow Transformation Pack 1.5 for Windows 7

Snow Transformation Pack bisa mengubah windows seven menjadi Mac
Silahkan download di Snow Transfomation Pack 1.5

Saturday, 12 February 2011

Belajar Dari Seorang Bayi

Jatinangor, 12 Februari 2011

Ketika suntuk - suntuknya di kamar, bermahiwal - mahiwal ria, tiba - tiba datanglah sebuah benda yang menyilaukan cring cring cring. X)
waaaaaaaaaaa, ada DVD "Babies". Pas bangetlah ini buat saya, ketauan saya suka anak kecil banget (makanya mau jadi dokter anak, aaamiiin) :-)

Yak, laptop siap dinyalakan dan mulailah pemutaran film yang berjudul "Babies" ini (asa di bioskop, tapi yang ini lebih enak, soalnya g banyak iklan dulu sebelum nonton he)

Jadi DVD yang saya tonton ini mengisahkan tentang kehidupan 4 orang bayi yang berasal dari Namibia, Mongolia, Tokyo, dan San Francisco. Keempat bayi ini lahir bersamaan. lucu - lucu lagi X). Inti narasinya, mereka sama - sama menjalani kehidupan sebagai seorang bayi di wilayah masing - masing. Mereka tampak bahagia dengan kehidupan mereka, bagaimana mereka bermain, merangkak, dan mulai belajar jalan.

Pelajaran untuk saya hari ini:
Terkadang manusia sulit menikmati tiap fase - fase kehidupan mereka. mengapa demikian? karena mereka yang seharusnya berada pada fase tersebut, tetapi berperilaku tidak sesuai dengan fase yang harusnya telah dia capai.
      "manusia sulit menemukan jati dirinya meskipun telah berusaha untuk mencarinya, padahal proses pencarian itu adalah jati dirinya" (Dimas Febrian Purnomo)

Slide Mini Lecture PHOP, BHP, CRP RPS

buat yang mau menyempatkan liburannya buat baca silakan download di sini

Semoga sukses :-)

Catatan Iedul Adha Dari Washington


Di Islamic Center of Kent, Washington, USA, kisah itu hari ini diperdengarkan lagi oleh khotib muda yang berwajah cerah itu. Aksen Inggrisnya membuat siapa saja bisa menebak bahwa dia berasal dari daerah timur tengah. Meski bisa mengikuti dengan baik, ada beberapa bagian yang membuat saya harus berkonsentrasi penuh agar paham.
Pemanas ruangan di masjid kecil itu tak mampu mengusir hawa dingin akhir musim gugur menjelang winter—di negeri yang selalu dingin sepanjang tahun ini. Wajarnya, dikhotbahi pagi-pagi dalam cucaca dingin sedemikian rupa setiap orang pasti terkantuk. Tapi ketika kuangkat kepala dari menatap lantai, kulihat semua orang di kiri kananku takzim mengikuti kotbah. Dari barisan depan sudah banyak yang terisak. Beberapa orang sudah mengusap punggung tangan ke mata. Tadinya kupikir aku sendiri yang memerah matanya.
Lima hari lagi genap sudah tiga bulan aku di sini. Tapi sampai sekarang belum juga aku terbiasa dengan cuacanya, terutama hawa dinginnya yang kadang mencapai 3 derajat  celcius di pagi hari. Tak tahulah aku bagaimana jadinya winter nanti, jika masih musim gugur ini saja suhunya sudah drop sebegitu.
Hawa dingin itulah yang membuat aku tadinya malas berangkat. Shalat Ied yang dimulai jam delapan membuat saya harus bangun pagi-pagi dan segera mandi, lalu keluar rumah ketika hari masih remang-remang. Disini, di akhir bulan November ini, jam tujuh pagi masih gelap dan jam lima sore sudah gelap lagi. Kadang-kadang hujan turun sepanjang hari. Matahari tidak muncul bisa sampai berhari-hari.
Keluar dari apartement aku harus berjalan cepat-cepat ke pemberhentian bus untuk mengejar bus 166 menuju Kent Station. Lalu kemudian mendekam di bawah halte bus Kent Station dalam belaian angin basah yang berdesau-desau, sekitar sepuluh menit menggigil disana hingga bus 169 menuju Renton membukakan pintunya, tepat jam tujuh tiga puluh. Parahnya lagi hari ini tadi hujan—seperti kebanyakan hari-hari sebelumnya—(oh ya, welcome to Seattle. Disini dalam setahun sembilan bulannya hujan.)
Ada alasan yang bagus untuk tidak pergi ke masjid untuk sholat idul Adha hari ini tadi. Pertama sholat Ied itu sunnah, jadi boleh saja ditinggalkan. Apalagi untuk melakukannya banyak rintangan. Kedua, hari hujan. Katanya kalau hari hujan boleh tidak ke masjid. Ketiga, sebenarnya hari ni aku ada kelas. Aku kan sedang menuntut ilmu. Ada pernah aku dengar bahwa itu bisa jadi excuse.
Tapi bagaimanapun juga, tetap saja hati kecil saya berkata saya harus ke masjid.Bukankah itulah maknanya perngorbanan dari hari raya kurban ini? Karenanya sejak kemarin saya sudah siap-siap.

Saya izin dengan dosen untuk tidak masuk hari ini. Saya jelaskan bahwa ini adalah holiday buat kami Muslim. Dia bilang “That’s really fine.” Dia Cuma beri saya tugas.
Sebenarnya disini sudah ada yang merayakan idul Adha kemarin. Bahkan di masjid yang sama tempat saya sholat hari ini, kemarin juga diadakan sholat idul adha. Ada dua kubu besar di sini, antara kelompok arab dan kelompok Somalia. Seperti Muhammadiyah dan NU kalau di Indonesia. Tapi bedanya, disini mereka sholat di masjid yang sama dan tidak pernah ribut. Mereka saling menghormati pendapat orang lain. That’s not a big deal. Tidak seperti di negeri kita yang bisa jadi ribut besar-besaran.
Saya memilih sholat hari ini karena sebagian besar jamaah masjid Kent merayakannya hari ini. Meski tidak penuh—bahkan tidak sebanyak jamaah sholat jum’at—sholat Ied hari ni berjalan lancar dan khidmat. Dan seperti yang kubilang tadi, khutbahnya begitu menyentuh.
Kisahnya sama. Tentang Nabi Ibrahim yang hanif, yang telah memiliki sifat-sifat kenabian semenjak ia kecil. Yang hidup di tengah-tengah komunitas yang rusak. Yang berani menghancurkan berhala-berhala. Yang dibakar tapi tidak terbakar. Yang menikah dengan siti Hajar, lalu tanpa putus asa terus bersabar menunggu selama delapan puluh tahun untuk dikarunia Ismail yang diberkati.
Lalu tentang perintah Allah untuk meninggalkan anak istrinya di lembah antah berantah , yang panasnya bukan main kalau siang lalu gulita ketika malam sampai tidak terlihat telapak tangan di depan wajah. Lalu tentang kisah mahsyur mengenai peristiwa yang mendasari hari raya Kurban. Peristiwa ketika Ibrahim hendak menyembelih anak kesayangannya karena perintah Allah, yang setiap muslim pasti pernah mendengarnya.
Semua sama seperti yang sejak kecil sudah ku dengar dari mulut khotib di masjid kampungku yang terbata-bata membaca tulisan arab gundul di kitab kuning tua kebanggaannya.
Tapi hari ini kisah itu terasa jauh lebih menyentuh. Entah karena khotibnya yang dengan merdu mengutip ayat-ayat Alqur’an sehigga kutbahnya terasa lebih khusuk, atau karena kelihaiannya memilih kata-kata.
Tapi kukira yang paling penting, sang imam waktu itu selalu mengaitkan apa-apa yang disampaikannya dengan apa yang terjadi dengan kehidupan sehari-hari disini. Dia membuat siapa saja tertohok dan merasa malu sendiri pada Ibrahim. Pengorbanan yang ia lakukan begitu besar, membuat apa-apa yang kita lakukan selama ini untuk Allah terasa tidak ada apa-apanya.
Bagi saya sendiri, sang Khotib membuat sosok Ibrahim menjelma raksasa dan saya kerdil di ujung kakinya. Saya sering berpikir bahwa ada alasan baik bagi saya jika saya tidak beragama dengan baik disini, sebab saya tinggal di lingkungan yang sangat tidak kondusif.
Tinggal di negeri “bebas’ ini, kemana pun wajah mengarah disitu terlihat pemandangan yang haram. Kemana pun kaki menuju selalu bertemu tempat maksiat. Tidak ada yang melarang jika ingin berbuat dosa. Tidak ada yang mengingatkan jika kita salah jalan. Tidak ada yang disegani jika hendak mangkir. Jadi wajar jika saya tidak bisa “alim-alim amat”.
Tapi Ibrahim menertawai saya, sebab ia hidup di komunitas yang lebih parah. Tapi ia tidak lemah seperti saya dan tidak berpikir bahwa wajar jika ia tidak alim-alim amat.
Disini saya sering merasa sedih ketika harus bertemu rintangan ketika hendak menjalankan agama. Kadang waktu kuliah atau program lain yang konflik dengan waktu sholat sehingga menyulitkan. Pernah saya dituduh tanpa izin meniggalkan kelas untuk sholat.
Pernah saya tidak sholat jumat karena tidak bertemu masjid yang yang tadinya sudah dicari di Google Map, gara-gara harus menyesuaikan dengan suatu acara di luar kampus. Berkali-kali saya mesti sholat di luar ruangan seperti di tempat parkir, di emperan gedung kuliah, bahkan di dekat WC (saya sudah terbiasa melakukannya sekarang). Belum lagi pandangan orang yang menatap aneh kalau saya lagi sholat, atau dengan terang-terangan menertawai.
Tapi Ibrahim berkata, pernahkah kamu mau dibakar gara-gara itu? Tidak bukan?
Ya benar. Sekarang saya benar-benar merasa malu sendiri. Itu belum ada apa-apanya dengan apa yang dialami Ibrahim. Selama ini saya terlalu melankolik. Saya juga terlalu banyak mencari pemakluman. Terlalu banyak mencari kemudahan yang cenderung menjadi memudah-mudahkan. Saya tidak melakukan “try the best” sebelum mengatakan ‘ini uzur”. Padahal ada banyak orang yang mengalamai jauh lebih berat dari saya.
Itulah yang pelajaran yang saya dapat di hari raya Idul Adha pertama saya di negeri orang. Sungguh, itu tidak saya temukan pada waktu merayakannya di tanah air. Disini lebarannya tidak ada yang istimewa. Tidak ada acara khusus, tidak ada makanan khusus, dan tidak ada pakaian khusus. Bahkan tidak terasa seperti lebaran. Namun dalam semua kesederhanaan itu, aku justru mendapat pelajaran yang tidak kutemukan dalam meriahnya lebaran di kampung halamanku.
***
Selesai shalat semua orang berpeluk-pelukan sambil mengucapkan “Ied mubarrak”. Suasananya penuh keakraban. Bagi saya sensasinya tak kalah syahdu meski tidak berkumpul dengan keluarga, tak ada ketupat, tak ada opor, tak ada daging kurban, bahkan tak ada makanan yang mau dimakan kalau pulang nanti. Aku tidak merasa berada di negeri orang lain, meskipun hanya beberapa orang saja yang kukenal dari jamaah itu. Sebab di manapun tempatnya, di dalam masjid semua orang serasa keluarga.
Aku ingin sekali menyambangi sang imam yang telah menyampaikan khutbah yang indah tadi. Tapi rupanya yang berpikir begitu bukan hanya saya. Banyak sekali orang yang mengantri untuk bersalaman dan memeluknya. Saya termasuk yang terakhir yang mengucapkan ied mubarrak, lalu seperti kebiasaan orang disini – bersalaman dan berpelukan kiri-kanan tiga kali. “Thank you for the inspiring speech, brother,” kata saya.
Pulangnya saya naik bus lagi. Masih dingin dan angin masih bertiup berdesau-desau. Di halte saya bertemu Abdullah, nama hijrah seorang pemuda native America yang memeluk Islam beberapa tahun yang lalu. Orangnya tinggi besar, tampan dan gagah. Di depannya membuatku selalu sadar kalau aku pendek dan hidungku pesek. Aku biasa satu bus dengan dia setiap pergi sholat jumat. Kami selalu mengobrol lama kalau bertemu.
Sama seperti aku, rupanya dia juga sangat tersentuh dengan kutbah hari ini. Dia bilang kosep “sacrifice” Ibrahim sangat menyentuhnya. “What have we sacrificed so far, brother?” tanyanya retoris, tanpa bisa aku jawab apa-apa.
Di Kent station kami berpisah karena dia akan mengambil bus yang berbeda. Sebelum pergi dia menyalamiku dan mengucapkan salam, lalu berlari mengejar busnya yang sudah menunggu di Bay 8.
Aku mengiringi Abdullah berlari dengan tatapan mata. Aku kagum pada ketaatan pemuda itu. Kata-katanya terngiang lagi di telingaku. “What have we sacrificed so far?”
Entah mengapa tiba-tiba aku merasa malu pada Abdullah. Sebab selama mengenalnya, seingatku aku belum pernah mendengar ia mengeluh tentang sulitnya menjalankan agama di sini. Bukankah pasti juga berat baginya? Pasti sulit baginya harus keluar dari agama keluarganya, keluar dari kegemerlapan kehidupan Amerika yang sudah ia kenal seumur hidupnya, untuk masuk Islam dan dengan taat menjalankannya. Bahkan lebih taat dari sebagian besar orang yang lahir sebagai muslim seperti saya, atau bahkan yang datang dari negeri-negeri dimana agama ini diturunkan. Iya benar, ia tidak pernah mengeluh sekalipun soal itu.
Abdullah adalah contoh yang sangat “dekat”. Dia bukan dari golongan sahabat rasul yang hidup di jaman nabi. Dia juga bukan orang alim “di suatu kampong pada suatu masa” seperti kisah-kisah yang sering aku dengan pada taklim-taklim. Dia anak jaman ini, yang ada di depan mata saya. Dia adalah orang yang sudah mengorbankan banyak hal, tapi tetap saja berkata “what have we sacrificed so far?”.
Ah, sepertinya dia sengaja menyindirku. What have I sacrificed so far? Bukankah tadi pagi aku nyaris tidak pergi ke masjid hanya gara-gara dingin dan hujan. ***
Riverwood, Kent, 11/17/2010

Kita Hari Ini dan Hari Esok

Jatinangor, 11 Februari 2011

      Akhirnya ujian telah selesai, alhamdulillah meskipun ada beberapa kesalahan yang saya lakukan ketika ujian hari terakhir, tapi ya setidaknya itu mungkin yang terbaik.
    
      Sesampainya di bale, saya langsung tiduran memikirkan setiap jejak kehidupan saya mulai dari pertama kali masuk FK sampai akhir semester 1. Setelah saya pikir - pikir lagi, memang saya belum maksimal tampaknya. Tiba - tiba ada suara memanggil, "boy makan yuk boy"
Saya menjawab,"Nanti aja bang nanggung masih sore, mending sekalian makan malam."
Entah atas dasar apa saya akhirnya mau ikut makan juga (padahal gara - gara mau ditraktir. Tapi akhirnya saya juga yang gak mau, jadinya bayar sendiri - sendiri deh"

Sesampainya di Kantin Ratna,

Ngobrol, ngobrol, dan ngobrol. Suatu ketika mulai menjurus ke sesuatu yang serius.
tiba - tiba abang bilang, "Boy, kalo kita besar nanti pasti kita bakal tertawa melihat perjuangan kita, penghuni kamar 23 yang mahiwal"
Saya,"Pasti itu bang ahahahahahaha, kehidupan itu memang gak mesti lancar terus"
Abang, "Segaknya kita mempunyai cerita buat anak - anak kita"
Sontak saya berpikir (manusia memang benar - benar pembuat cerita yang indah ya, terlebih lagi bagi manusia yang awal kehidupannya terpuruk dan tiba - tiba melejit naik "kasta". Seperti sebuah kalimat pada buku sang pemimpi, "Manusia selalu berusaha mencari serpihan - serpihan jiwa, mozaik kehidupannya."

Intinya ya, segaknya kita memikirkan hari esok, tapi jangan dipikirin aja, benar - benar diresapi dan harus dilakukan semua rencananya.

"Kita hari ini adalah hasil dari susunan puzzle kehidupan hari kemarin. Kita hari esok adalah buah pencarian puzzle yang belum ditemukan." (Dimas Febrian Purnomo)

Bank Soal RPS

buat yang ngerasa liburannya ingin bermanfaat kudu dicoba nih :-)
silahkan download di Bank Soal RPS
Semoga bermanfaat :-)

AVG Free 2011

AVG AntiVirus Free Edition 2011 memungkinkan Anda untuk:

  • Jelajahi dan telusuri dengan penuh keyakinan Perlindungan seketika AVG LinkScanner®
  • Tetap terlindungi di jaringan sosial dengan Perlindungan Jaringan Sosial AVG
  • Nikmati PC yang berjalan lebih cepat Pemindaian Cerdas AVG bekerja selagi Anda tinggalkan dan berjalan dalam mode prioritas rendah saat Anda kembali
  • Tetap terinformasikan dengan informasi ancaman terbaru dari Jaringan Perlindungan Komunitas AVG dan Teknologi Awan Pelindung AVG

Klik untuk mendownload: download AVG Antivirus

Download google chrome terbaru versi 10.0.648.45

Google Chrome lebih cepat, bisa dilihat peringkatnya
SunSpider Benchmark
1. Opera 10.5                   353.4ms +/- 1.1%
2. Chrome 6.0.408.1       489.6ms +/- 3.9%
3. Opera 10.6                  517.4ms +/- 5.7%
4. Safari 5.0 (7553.16)   600.4ms +/- 1.1%
5. Chrome 5.0.375.86      635.0ms +/- 3.6%
6. Internet Explorer 9      807.4ms +/- 12.1%
   (Trial Build 3) 
7. FireFox 3.6.4            1396.6ms +/- 14.6%
8. Internet Explorer 8   7228.8ms +/- 9.7%

JSBenchmark (by Celtic Kane)
1. Chrome 5                     459 ± 0
2. Opera 10.6                  387 ± 0
3. Chrome 6.0.408.1       355 ± 0
4. Safari 5.0 (7553.16)   252 ± 0
5. Opera 10.5                  211 ± 0
6. Internet Explorer 9      177 ± 0
   (Trial Build 3) 
7. FireFox 3.6.4              100 ± 0
8. Internet Explorer 8      59 ± 15

Futuremark Peacekeeper Benchmark
1. Opera 10.6                 5244 Points
2. Chrome 6.0.408.1      5162 Points
3. Chrome 5.0.375.86     4897 Points
4. Opera 10.5                 3323 Points
5. Safari 5.0 (7553.16)  2606 Points
6. Firefox 3.6.4             1939 Points
7 Internet Explorer 9      1919 Points
   (Trial Build 3) 
8. Internet Explorer 8      829 Points

Buat yang tertarik silahkan download di sini

Friday, 11 February 2011

Tutorial Guide RPS (Semester 2)

Alhamdulilah selesai upload tutorial guide RPS
buat temen-temen yang berminat silahkan ke: http://rapidshare.com/files/447367989/Tutorial_Guide.zip
wah file yang harus di download gede ya?
biar cepet gunakan: Internet Download Manager

buat yang mau download lewat ziddu di sini
Semoga bermanfaat, sukses selalu :-)

Harapan

Fatamorgana terlihat olehku di ujung jalan
Menyibakkan sebuah fenomena alam yang begitu mempesona
Mengelabui setiap pasang mata memandang
Memutarbalikkan setiap realita yang seperti sebuah harapan

Harapan…..
Sebuah pencerahankah?
Atau sebuah jalan menuju kesesatan?
Atau….

Harapan….
Bagaikan seorang pelukis yang sedang menggoreskan kuasnya
Paduan warna indah akan terbentuk ketika dia berpikir kecantikan nan elok
Guratan garis yang abstrak akan tergambar ketika dia berpikir sebuah kekelaman

Sesungguhnya aku menyadari bahwa harapan akan tetap menjadi kayu
Ketika aku belum membakar kayu itu
Dan sesungguhnya aku menyadari bahwa harapan akan tetap seperti sampah
Ketika aku belum mendaur ulang sampah itu

Harapan….
Timbul dari sebuah keinginan
Menjelma menjadi sebuah tujuan
Terukir dalam sebuah perbuatan
Tersirat dalam seonggok kesuksesan

Kini aku termenung dalam diam
Membaca setiap paragraf kehidupanku
Merajut kembali benang – benang harapan yang telah tenggelam
Meraih bintang – bintang malam, dalam mimpi tidur lelapku

created by Dimas Febrian Purnomo