Tuesday, 2 October 2012

Teringat...


Jatinangor, 2 Oktober 2012
Pukul 05.29 WIB

            Gemercik air terdengar keras di sekitar kosanku, sebuah pemukiman yang cukup padat dengan rumah saling berdempetan. Tidak ada celah untuk bermain bola bahkan kendaraan seperti motor pun sulit untuk meliak – liuk di gang. Bukan gang, mungkin bisa dibilang ruang yang tersisa di pemukiman ini. Segala aktivitas yang dilakukan orang – orang disini pun bisa terdengar dengan jelas. Sepertinya, suara disini tidak dibiarkan lepas begitu saja dari kepadatan pemukiman ini. Suara kereta di kejauhan pun seakan menyahut reriuhan segala aktivitas yang dilakukan manusia pagi ini, termasuk Aku yang sedang duduk manis di atas tempat tidurku. Ada lagi suara yang lain. Suara seorang Ibu yang sedang menjajakan jualannya tiap pagi, “nasi kuning a, gorengannya a”. Kau tahu kawan, momen seperti ini hanya bisa didapatkan pada pagi hari di Pondok Averous, tempat Aku tinggal. Aku bersyukur tinggal di tempat ini. Tempat ini begitu tenang dan mendayu – dayu ketika pagi, merefreshkan segala penat di kepala.

Aku terduduk dalam diam, menikmati segala momen pagi ini. Ingin rasanya Aku membuat teh agar semakin lengkap momen ini. Ingin juga rasanya aku tidur menghadap langit, menikmati keindahan sang surya yang siap memberikan alat memasak untuk membuat vitamin D di kulit, yaitu cahaya matahari. Kau tahu kawan, segala nikmat yang diberikan Allah seperti tidak ada habis – habisnya ya. Momen berharga seperti tiap pagi di Averous juga merupakan nikmat.

Tiba – tiba aku teringat perjuanganku ketika aku SMA dulu. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, institusi yang tidak pernah aku perkirakan sebelumnya ketika pengumuman hasil SNMPTN memberikan jawaban atas semua kegalauanku kala itu. Aku teringat ketika aku ujian mandiri tetapi tidak menghasilkan apa – apa. Aku teringat ketika ibu mengajakku untuk ujian mandiri langsung ke daerah institusinya agar peluang aku besar.  Aku teringat bersama ibu ke Purwokerto naik kereta untuk menjalani ujian mandiriku dan sesampainya disana kami tidur dulu di masjid. Aku teringat apa yang dibilang ayah dikala aku gagal pada setiap ujian mandiriku. Aku teringat tekanan yang sedang menghampiriku, mengetahui bahwa ujian yang harus kujalani tinggal tersisa SNMPTN aja sedangkan aku belum diterima dimanapun. Aku teringat ketika Ayah meninggal seminggu sebelum aku ujian SNMPTN. Aku benar – benar langsung drop waktu itu, timbul perasaan aku tidak mau kuliah lagi. Semangatku benar – benar hilang pada saat itu. Aku teringat…..

Sedih…
Bangga…
Kehilangan…
Khawatir…
Baiklah kawan, nanti aku akan ceritakan kisah itu semuanya…

Semangat dan tetap tersenyuuum ^_^


           

Tuesday, 25 September 2012

Waktunya Kembali!


Jatinangor, 25 September 2012
Pukul 04.57 WIB

            “Hai bintang, kau tampak indah sekali di atas sana”, batinku ketika aku baru saja keluar dari Masjid Mukhtarul Ulum. Pagi ini, tampak beberapa bintang masih berpendar untuk memperlihatkan keindahannya. Mereka juga seakan tidak memperdulikan akan tibanya sang fajar yang akan mengalahkan cahaya mereka. Mereka pintar sekali dalam memanfaatkan sedikit waktu yang ada sampai menjelang fajar untuk menghibur manusia – manusia yang menunaikan solat subuh di masjid. Aku pun tidak henti – hentinya mengucap syukur kepada Allah swt atas kenikmatan pemandangan yang Dia sajikan pagi ini. Tidak membuang – buang waktu lagi,  Aku langsung melesat cepat untuk pulang ke kosan. Ada sesuatu yang meloncat di pikiranku. Bukan hanya sekedar itu, melainkan gejolak perasaan yang timbul karena Aku tidak melakukan apa yang biasanya Aku lakukan dulu.

            “cekrek cekrek”, aku membuka pintu kamar. “kamarku yang hangat, terima kasih ya untuk menjaga peraduan lelapku malam ini,” batinku. Ketika sudah di dalam kamar aku pun menyalakan laptop yang terlihat makin usang namun syarat pengalaman. Kau tahu kawan, laptop ini umurnya sudah lama sekali. Laptop ini tetap tangguh meskipun sudah ditelan zaman, tetap berjalan meskipun sulit melangkah, dan tetap setia menemani majikannya dalam merangkai tulisan – tulisan. Sekali lagi terima kasih ya Allah untuk tetap menjaga laptopku sampai sekarang ini. Ya kawan, pada intinya tetap bersyukur dengan apa yang kita punya adalah suatu keharusan. Terkadang mungkin kita melupakan hal kecil itu sampai – sampai tidak menghargai barang kita sendiri. Jangan sampai kita menjadi orang – orang yang merindukan apa yang kita sesalkan setelah kehilangan.

            “Ah, aku tidak sabar lagi,” gejolak perasaan yang aku rasakan di masjid muncul lagi. Aku pun langsung mengklik icon aplikasi Microsoft Word dan terpampang lah sebuah jendela aplikasi Microsoft Word.  “Let’s go Dimas, here we go,” batinku. Kata demi kata aku ketik. Semua yang aku pikirkan aku tuangkan dalam tulisan yang sedang aku buat. “Aku rindu sekali saat – saat seperti ini,” aku tersenyum dalam hati. Kau tahu kawan apa yang sedang aku rindukan? Ya, aku rindu saat – saat aku menulis di blog. Aku rindu berbagi pengalaman inspirasi ke orang lain. pokoknya Aku rindu segala hal yang berhubungan dengan blog. Aku tersadar sudah lama sekali Aku tidak menulis di blog lagi. Dan kau tahu kawan apa yang membuat gejolak menulisku muncul lagi? Ya, seseorang yang mengirimkan message ke hpku semalam. Thanks for your message starry night ^_^

            Sekarang aku mau lanjut menulis lagi, semoga tetap konsisten ^_^. Aaamiiin…..

Semangat dan tetap tersenyuuuuuum ^_^


            

Saturday, 31 March 2012

Si Garing, Si Belibeth, dan Si Maga (Bagian 1)


           Alkisah pada zaman dahulu kala di desa Doplang, Cilacap, Jawa Tengah, tinggallah seorang ksatria tangguh bernama Prabu Dimas Jokosuwiryo Ing Ngadyo Mangun Karso. Nama itu disematkan oleh ibunya yang bernama Kencanasari Pusfa Hadiyatussalamah atau yang biasa dipanggil Nyai Pupus. Nyai Pupus sendiri bersuamikan seorang pejantan tangguh bernama Prabu Popon.

            Ketika kelahiran Prabu Dimas, ada yang menjadi perbedaan pendapat antara Nyai Pupus dan Prabu Popon dan akhirnya pertengkaran suami istri pun tak terelakkan. “Kamu gimana sih ngasih nama anak panjang banget?”, marah Prabu Popon. “Suka – suka dong, wong ibunya sendiri juga panjang namanya,” Nyai Pupus melotot ke Prabu Popon. Mereka berdua beradu mulut selama beberapa jam tak henti – hentinya. Tiba – tiba keduanya menghunus keris dan perang keris pun tak bisa terelakkan lagi. Singkat cerita,  Prabu Popon kalah dengan kedahsyatan kekuatan cakra Musang Berekor Sembilan yang dimiliki Nyai Pupus. Nyai Pupus pun meminta Prabu Popon untuk keluar dari rumahnya. Akan tetapi, Prabu Popon tidak mau. Prabu Popon  terus meronta – ronta dan meminta - minta kepada Nyai Pupus untuk tidak mengusirnya. Nyai Pupus pun hanya bisa tertawa, “Hahahahaha, ini yang namanya emansipasi wanita, rasakan.”  Akhirnya Nyai Pupus pun memaafkan Prabu Popon dengan syarat Prabu Popon melakukan tugas sebagai bapak rumah tangga. Nyai Pupus pun hanya bisa tertawa, “Hahahahaha, ini yang namanya emansipasi wanita, rasakan”

            Tahun demi tahun pun berlalu, Prabu Dimas semakin tumbuh besar dan bertambah kuat. Berbanding terbalik dengan orang tuanya yang sudah terlunta – lunta, kecuali Nyai Pupus yang mempunyai cakra Musang Berekor Sembilan. Dia masih tampak muda. Tidak seperti suaminya yang sudah tua. Nyai Pupus pun hanya bisa tertawa kepada suaminya, “Hahahahaha, ini yang namanya emansipasi wanita, rasakan.”

            Prabu Dimas terkenal dengan kepiawannya dalam memberantas penjahat di desanya. Dia juga terkenal arif dan bijaksana dalam membela rakyat kecil. Tiba - tiba, ketika sedang asyik – asyiknya merenung di depan rumah, Prabu Dimas kedatangan sepasang suami istri yang terlunta – lunta datang ke rumah sambil membawa kucing. “Assalamu’alaikum,” salam sepasang suami istri itu kepada Prabu Dimas. “Wa’alaikumsalam, ada perlu sesuatu bapak... Ibu...?” jawab Prabu Dimas. Sang suami yang menenteng kucing memulai pembicaran, “perkenalkan nama saya Dzihaf dan ini istri saya, panggil saja Mita. Jadi gini sebenarnya.” Tiba – tiba Mita memotong pembicaraan.
“aih kakanda Dzihaf, aku takut anak kita kenapa – napa, aku takut kakanda dzihaf”, teriak Mita sambil menarik – narik jambang dan jenggot suaminya, Dzihaf.
“Ada apa dengan anak ibu?” tanya Prabu Dimas
“jadi begini Prabu Dimas, anak kami yang bernama Garing, Belibeth, dan Maga tiba – tiba hilang tidak tahu kemana. Kata warga ketiganya tersesat di tempat yang berbeda. Anak kami yang bernama Garing katanya tersesat di Pulau Lucu yang dijaga oleh seorang nenek sihir jahat bernama Niranu,” jawab Dzihaf
“aih kakanda Dzihaf, aku takut anak kita kenapa – napa, si Garing kan gak bisa ngelucu. Aku takut Garing kenapa – napa, aku takut kakanda Dzihaf,” teriak Mita sambil menarik – narik jambang dan jenggot suaminya, Dzihaf.
“Lalu anak kami yang bernama Belibeth katanya tersesat di Pulau Beberes yang dijaga oleh seorang nenek sihir jahat yang bernama Ninura,” jelas Dzihaf.
 “aih kakanda Dzihaf, aku takut anak kita kenapa – napa, si Belibeth kan beribet. Aku takut Belibeth kenapa – napa, aku takut kakanda Dzihaf,” teriak Mita sambil menarik – narik jambang dan jenggot lagi suaminya, Dzihaf.
“Lalu anak kami yang bernama Maga katanya tersesat di Pulau Serius yang dijaga oleh seorang nenek sihir jahat yang bernama Raninu,” tambah Dzihaf.
“aih kakanda Dzihaf, aku takut anak kita kenapa – napa, si Maga kan gak bisa jaim. Aku takut Maga kenapa – napa, aku takut kakanda Dzihaf,” teriak Mita sambil menarik – narik jambang dan jenggot suaminya, Dzihaf.
“Woooooooooy nyantai doooooong, maen tarik aje daritadi, lu kire gue gak kesakitan, sakit nih tau,” bentak Dzihaf ke Mita.
“Iya maaf deeeeh, hiks,” isak Mita
“Wooooooy, jangan berantem, nanti kayak orang tua saya tuh yang sekarang lagi berantem,” teriak Prabu Dimas

Prabu Dimas pun bersedia untuk mencari anak mereka. Dia ke dalam rumah untuk menyiapkan barang – barang bawaan dalam misinya mencari Garing, Belibeth, dan Maga. Prabu Dimas lalu keluar seraya bilang, “Baiklah, kalau begtu deskripsikan anak – anak kalian agar saya bisa menemukan anak – anak kalian.”
“Baiklah, anak saya yang pertama, Garing, merupakan anak yang pintar dalam akademiknya makanya jadi kasie Pendpro hehe. Dalam berorganisasi dia terlihat rapi dalam mengatur para staffnya dan deket juga dengan mereka. Cara memandang dia terhadap organisasi sangat kritis sekali makanya sering banyak nanya ke Kabidnya yang bernama Febrian Purnomo, biasa dipanggil Febri. Terkadang bisa bikin kabidnya gak bisa menjawab pertanyaannya pada saat itu juga. Garing itu orangnya jayus, mau melucu tapi gak lucu, hanya satu yang bikin membuat dia lucu, bersinnya itu looooh, Huaaaaaaaaaach, udah kayak mau silat. Tapi overall Garing merupakan orang yang periang.”
“lalu bagaimana yang selanjutnya?” Tanya Prabu Dimas.
“Anak kami yang bernama Belibeth merupakan orang yang menurut saya sangat baik dalam proses pengembangannya. Belibeth merupakan orang yang mau terus belajar dari kesalahan, senantiasa untuk menjadi orang yang lebih, lebih, dan lebih baik lagi. Terbukti dia sering sms meminta untuk memberikan penilaian terhadap dirinya ke anak – anak PnK untuk mengevaluasi dirinya. Untuk kedekatan dirinya ke staff sangat baik dalam beberapa hal yang saya perhatikan. Saya melihat staff – staffnya sayang sama dia.”
“waaaah, lalu untuk yang terakhir?” Tanya Prabu Dimas lagi.
“Gama ini intinya anak yang sangat lucu, konyol, tapi kritisnya bukan main juga. Sama dengan Garing, kalo nanya ke kabidnya, Febrian, mantep banget. Bener – bener detail oriented lah. Pesiar juga orangnya sangat tegas dan cepat dalam bertindak, terbukti sekarang untuk advokasi lapangan diperbaiki sekarang sudah dikerjakan. Untuk kedekatan dengan para staffnya sama, sangat dekat juga.”
“hmmm, Baiklah kalo gitu biar cepat, saya langsung berangkat ya”
“Kaju, Kage Bunshin No Jutsu (jurus perbanyak bayangan)”

Dzihaf pun hanya melamun, memandang Prabu Dimas yang semakin pergi menjauh. “aih kakanda Dzihaf, aku takut anak kita kenapa – napa, aku takut kakanda dzihaf”, teriak Mita sambil menarik – narik jambang dan  jenggot suaminya, Dzihaf.
“aaaaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuu,” teriak Dzihaf
Dan jambang dan jenggot pun terputus…………

Bersambung……
Nantikan cerita selanjutnya yaaaaaaaaa :-D

Created by: Dimas Febrian Purnomo

Pemeran:
Prabu Dimas: Dimas Febrian Purnomo (Kabid 1)
Nyai Pupus: Hadiyatussalamah Pusfa Kencanasari (Ketua Staff Ahli Medinfo)
Prabu Popon: Poundra Adhisatya Pratama (Ketua Senat)
Mita: Pratami Dyah (Sekjen)
Dzihaf: Hafdzi Maulana (Kabid 2)
Nenek Sihir: Nurani Nashuha Arief (Kabid 3)
Garing: Ivan Kurnianto (Kasie Pendpro)
Belibeth: Annisa Lidra Maribeth (Kasie PnK)
Maga: Pesiar Ilman (Kasie SPU)
     

Wednesday, 21 March 2012

Tetap Percaya, Kamu Adalah Manusia Pilihan Dimas



Jatinangor, 21 Maret 2012
Di Masjid Asysyifaa, Pukul 13.55 WIB

            Termenung dalam diam….
            Terdapat getaran, entah darimana asalnya….
           
Seketika saya merasakan betapa getaran ini menelusuri tiap – tiap ruas tulang. Dada terasa sesak, jantung seakan tidak bisa mengendalikan ritme detakannya lagi, dan sekujur tubuh seakan tidak bisa digerakkan.

Masih termenung……

Siluet ratusan mahasiswa tiba – tiba muncul dipikiran saya, ratusan mahasiswa yang berteriak – teriak, mengacungkan tangan, tatapan marah. Mereka seakan – akan merendahkan saya. Mereka mencemooh saya dan mengatakan saya tidak becus . Semuanya terasa begitu mencekam. Ada apa gerangan?

Getaran tubuh mulai melambat….
Menitikkan air mata…

Ya Allah, saya teringat dengan amanah saya. Amanah sebagai Ketua Bidang Pengembangan Potensi Mahasiswa. “PENGEMBANGAN POTENSI MAHASISWA”, batin saya. Saya mencoba mengulangi kalimat itu berkali – kali. Semakin saya mengatakan kalimat itu, semakin pula dada ini terasa sesak. Semakin cepat saya mengulangi kalimat itu, semakin pula air mata ini tak terbendungkan lagi.

Mengusap air mata…

Apakah saya masih belum maksimal dalam mengemban amanah saya sehingga saya seperti ini? Apakah saya justru membuat amanah ini semakin terdzalimi? Ampuni hamba ya Allah jika memang hamba seperti itu. Berilah petunjukMu ya Allah meskipun mungkin hamba tidak pantas menerima petunjuk itu. Mungkin sudah banyak dosa yang saya perbuat, mungkin sudah banyak perintahmu yang kadang saya lalaikan.

Ada suara hati yang lain…
Suara hati itu terdengar mantap…

Dia berkata, “Dimas, aku percaya, petunjuk itu pasti ada. Yang harus kamu lakukan adalah menikmati proses kamu menjadi seorang ketua bidang. Jangan memikirkan orang lain yang mungkin sedang merendahkan kamu atau mungkin sekarang sedang menikmati kesedihan kamu dan ketidakberdayaan kamu. Semua ini gak berjalan begitu saja, ada takdir Dimas. Allah telah memilih kamu untuk menjadi seorang ketua bidang. Dia pasti punya maksud tertentu. Yang penting kamu tetap semangat dan melakukan semuanya dengan potensi maksimal yang kamu bisa”

“Tapi kan……,” saya memotong

“Kenapa? Merasa lelah? Merasa gak kuat? Ingat kawan, tempat istirahat yang paling indah itu adalah surga, dunia hanyalah tempat istirahat sementara. InsyaAllah setiap peluh keringat kamu, setiap yang kamu korbankan, akan dibalas olehnya dengan tempat peristirahatan yang kekal”

“Iya kamu benar…..,” saya menambahkan

“Dimas…..”, suara hati itu memanggil
“Keluarin dong senyum kamu, bukan Dimas yang aku kenal kalo kamu murung begini”

“Iya, makasih ya ^_^”

“Nah gitu dong”


Smangat dan tetap tersenyuuuuuuuuum ^_^


            

Sunday, 11 March 2012

Sudah Saatnya Memulai Dengan Karya Sastra


Jatinangor, 11 Maret 2012
Pukul 08.00 WIB

            Pagi yang cerah di jatinangor. Dari kejauhan, terdengar suara peluit kereta, berusaha untuk menarik perhatian manusia yang sudah terbangun pagi ini. Di kamar, buku Anatomi saya yang masih terbuka di meja belajar saya seakan tidak sabaran untuk menerima belaian saya ketika membalikan halaman demi halaman. Baru tersadar, saya belajar larut sekali semalam. Kalau tidak salah retina saya masih menyembulkan bayangan pukul 02.00 WIB ketika saya benar – benar rasanya ingin terpejam. Hati saya pun berbisik, “Bapak Moore yang begitu dahsyatnya menulis buku Anatomy, udah dulu ya, nanti kita lanjut lagi pukul 09.00. Jangan merasa lelah untuk sering saya buka – buka ya.” Ya kawan, UTS tinggal sebentar lagi, sudah saatnya saya merecall apa saja yang sudah saya pelajari setengah semester ke belakang. “Semangat Dimas!”, batin saya.

            Jadi gini kawan, kalian tahu kan saya novel addicted banget. Di laptop pun sampai – sampai saya banyak banget ebook novel. Kalo udah sekali membaca novel – novel tersebut, asa tidak mau berhenti begitu saja. Mungkin karena dulu saya sering didongengin dengan Ibu kali ya setiap mau tidur.Tapi, tiba- tiba saya jadi terpikirkan deh untuk membuat novel. Tidak hanya sekadar menikmati, tapi berkarya untuk menciptakan hal tersebut. Sebenarnya saya sudah terpikirkan untuk suatu tema. Ada beberapa hal yang saya angkat juga dari kehidupan saya untuk ceritanya. Mudah – mudahan terwujud ya. Yak, harus bisa Dimas, mulai dari sekarang. Ayo, buktikan dengan karya sastra. Harus semangat juga nih membuka catatan pelajaran Bahasa Indonesia mulai dari sekarang. ^_^

            Oke kalo gitu saya tambah mimpi saya yaitu, membuat minimal sebuah novel best seller, yeaaaaaah! \m/. Jadi teringat posting tentang sebagian dari mimpi saya yang saya posting di facebook J. Smangat lagi Dimaaaaaas, Insyaallah kamu bisa menggapainya! :-D

“Man Jadda Wa Jada”

Semangat dan tetap tersenyuuuuuuuuuuum ^_^
  

Monday, 5 March 2012

Mars Bersinar Terang Malam Ini

Malam ini adalah malam terbaik untuk menyaksikan Mars. Planet tersebut akan tampak merah terang dan bisa dilihat tanpa teleskop. Kecerlangan Mars malam ini terkait dengan proses revolusi Mars mengelilingi Matahari yang kadang membawanya menuju titik terdekat dengan planet lain.

Pada Sabtu (3/3/3012) lalu, Mars mencapai oposisi dengan Bumi. Oposisi Mars berarti kondisi di mana Mars berada di antara Matahari dan Bumi, mirip seperti kondisi gerhana Bulan.

Secara logika, jika oposisi terjadi pada Sabtu maka Mars juga akan berada di titik terdekat Bumi pada hari itu juga. Tetapi, karena perbedaan orbit maka titik terdekat baru dicapai pada Senin (5/3/2012) atau malam ini.

Malam ini, Mars akan berada pada jarak 100,7 juta kilometer dari Bumi. Mars pernah mencapai jarak terdekat ke Bumi selama 60.000 tahun pada peristiwa oposisi tahun 2003.

Pada oposisi kali ini, Mars akan terlihat di konstelasi Leo. Planet yang diduga menyimpan air di bawah permukaannya ini tetap akan tampak terang di langit kota. Jadi, pasti bisa disaksikan dari Jakarta.

Karena masih berdekatan dengan oposisi, maka Mars mulai bisa disaksikan hampir bersamaan dengan saat Matahari tenggelam. Saat matahari tenggelam di ufuk barat, Mars akan terbit di ufuk timur.

Berdasarkan Stellarium, Mars akan tampak dengan magnitud -1.23. Magnitud ini menyatakan kecerlangan benda langit. Semakin negatif, maka benda langit makin mudah dilihat mata.



Untuk melihatnya, paling mudah adalah mengarahkan pandangan ke timur jika mengamati sebelum tengah malam. Mars punya warna khas merah pucat, jadi seharusnya tak terlewat dari pandangan.

Mars akan bisa disaksikan sepanjang malam hingga menjelang Matahari terbit. Jika menyaksikannya dini hari, maka pengamat harus mengarahkan pandangannya ke barat.

Bersama dengan munculnya Mars, empat planet lain, yakni Merkurius, Venus, Jupiter, dan Saturnus, juga akan bisa dilihat. Bisa dikatakan, empat planet tersebut plus Mars sedang mengadakan parade malam ini.

Merkurius tampak di ufuk barat sesaat setelah Matahari tenggelam. Begitu juga Venus dan Jupiter yang bisa disaksikan hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Ketika Venus dan Jupiter tenggelam, Saturnus terbit.

Mars akan terlihat terang hingga bulan April 2012. Setelahnya, masih bisa disaksikan hingga Februari 2013, tetapi dengan cahaya yang semakin meredup.

Oposisi Mars berikutnya akan terjadi pada 8 April 2014 dengan waktu pengamatan terbaik pada 14 April 2014. Jika pengamat melewatkan kesempatan malam ini, maka pengamat harus menunggu sekitar 26 bulan dari sekarang.

diambil dari: sains.kompas.com

Friday, 17 February 2012

Lakukan Dengan Emas ^_^


Jatinangor, 17 Februari 2012
Pukul 16.06 WIB

          Akhirnya saya selesai juga baca buku Andrea Hirata yang berjudul “Padang Bulan” dan “Cinta di Dalam Gelas” ^_^. Banyak makna dan inspirasi yang saya ambil dari kejadian - kejadian yang terjadi di dalam buku ini. Jadi sebenarnya buku ini menerangkan siapa Maryamah Karpov sebenarnya (karena pas tetralogi laskar pelangi, buku yang berjudul Maryamah Karpov, tidak begitu menerangkan Maryamah Karpov). Di buku ini diulas cerita tentang perjuangan seorang anak yatim piatu yang bernama Enong (nama aslinya Maryamah, dipanggil orang tuanya Enong, yang merupakan panggilan kesayangan orang melayu). Nama julukan “Karpov” sendiri berasal dari nama Anatoly Karpov, seorang pecatur legendaries yang terkenal dengan formasi “Benteng Bersusun” miliknya. Maryamah sangat menguasai teknik ini dan secara natural muncul di dalam dirinya (maksudnya sebelum dikasi tau kalo ternyata teknik yang dia gunakan adalah teknik Anatoly Karpov). Alur cerita buku ini sendiri lebih mengangkat kehidupan orang melayu di tanah Belitong dan serunya perlombaan catur pada perlombaan 17 agustusan di belitong. ^_^

            Ada hal yang menarik yang ingin saya bagikan kawan ketika membaca buku ini yang terdapat pada buku Cinta di Dalam Gelas halaman 246. Ini merupakan cuplikan cerita ketika Maryamah berhasil menembus final melawan Matarom (mantan suaminya yang telah “menyusahkannya” ketika mereka menjalani kehidupan rumah tangga sebelumnya). Kalimatnya seperti di bawah ini:

            “Aku ingin memenangkan pertandingan final itu, Boi,” suaranya berat. Ia tampak tak sabar ingin mengakhiri perjalanan epiknya dari seorang pecatur yang dipandang sebelah mata ke puncak kejuaraan.
            “Aku harus dari menang”
            Aku pulang dari rumah Maryamah dengan lamunan yang makin panjang. Orang tak mengenal Maryamah secara mendalam takkan dapat memahami alasan dan langkah yang ia ambil untuk menegakkan harga dirinya. Melalui Maryamah, aku belajar menaruh hormat pada orang yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya sendiri, bukan dengan membangun pikiran negative tentang orang lain. Lalu aku berpikir, seumpama catur, hidup sedikit banyak bak reaksi atas pilihan sulit yang silih berganti mem-fait accompli manusia, dan alasan selalu lebih mudah dilupakan ketimbang akibat.

(dikutip dari: Cinta di Dalam Gelas hal: 246)

            Ketika saya membaca paragraf di atas rasanya seperti bergetar tubuh ini. Ya, sebuah pembuktian, bukan berasal dari apa yang kita katakan, tapi berasal dari apa yang kita lakukan. Ketika diri kita diolok – olok, ketika diri kita direndahkan, buktikanlah dengan semangat juang yang tinggi bahwa kita bukan seperti itu. Buktikan dengan sebuah usaha yang maksimal dari kita untuk menyanggah apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kalau menurut saya, “diam” itu bukan emas, melainkan “diam dan melakukan sesuatu” barulah emas. ^_^

            Semangat dan tetap tersenyuuuuuuum ^_^