Tuesday, 23 December 2014

Senyum Kami Adalah Senyum Masyarakat Indonesia



Oleh: Dimas Febrian Purnomo

Bandung, 23 Desember 2014
Pukul 21.03 WIB


Mata yang terlihat layu menunjukkan sebuah cerminan penuh harap
Berusaha menafsirkan segala kelelahan tanpa mengetahui sebab
Layaknya sekecil api yang semakin terlihat akan lenyap
Memancarkan siluet atas peluh yang terasa semakin lembap

Memandang setiap jeritan, tangisan, binar mata akan sebuah harapan
Membuatku terasa semakin sesak memikirkan apalah arti harapan
Jika sebuah kehidupan hanya menjadi langkah diperjalanan
Jika sebuah kematian hanya berarti tuk melepaskan penderitaan

Apakah yang mereka butuhkan?
Bukan kepastian akan kesembuhan, melainkan kepastian akan pengabdian
Apakah yang mereka inginkan?
Bukan sekadar bantuan, melainkan senyuman yang berlandaskan keikhlasan

Namun, sudah sejauh apakah kita berusaha dan memikirkan
Jika masih banyak kekecewaan akan setiap pelayanan
Sudah sejauh apakah kita mengerti arti empati
Namun diri ini masih saja gelap akan pengakuan dan harga diri

Ya Allah, bukakanlah pintu hati ini tuk hanya mengharap keridhaan
Jadikanlah setiap indra kami tergerak tuk hanya beribadah kepadamu
Agar kami tidak terjurumus dalam pedihnya akan sebuah siksaan
Agar kami tidak menjadi manusia yang hanya tergerak oleh bayang semu

Jangan mudah lelah wahai tenaga kesehatan indonesia
Karena sesungguhnya istirahat yang paling indah hanya di surga
Jangan mudah goyah akan kemunafikan di dunia wahai tenaga kesehatan indonesia
Karena sesungguhnya setiap jasad akan diminta pertanggungjawabannya

Teruslah berkarya tuk meningkatkan potensi diri
Teruslah melangkah walau usia terasa semakin menua
Karena peluh yang tercipta dari pengabdian tanpa henti
Melahirkan senyuman akan rasa syukur dari masyarakat indonesia
  


Tuesday, 16 December 2014

Kita Akan Kembali Bertemu

           

         “Pemandangan hari ini sangat indah ya,” senyumku sambil menatap cakrawala di pagi hari. Langit terlihat begitu cerah dan matahari serta awan putih seperti tidak mau ketinggalan untuk ikut serta dalam meramaikan suasana pagi ini. Beberapa mobil yang tampak macet di jalanan juga turut berebut untuk sekadar menyaksikan sebuah perhelatan akbar manusia-manusia terpilih. Hari ini, orang-orang yang dipersiapkan untuk menjadi ksatria-kastria tanah air telah mencapai titik nadir mereka. Sebuah puncak kebahagiaan atas segala peluh, pikiran yang terkuras untuk mengisi ruang ilmu di setiap saraf otak, dan hati yang telah memuliakan waktu tuk sekadar menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat baik disadari maupun tidak disadari oleh mereka. Termasuk aku, yang juga menjadi salah satu di antara mereka yang mendapatkan salah satu karuniaNya. Ya kawan, hari ini adalah hari penobatan kelulusanku.

            Telepon genggamku tiba-tiba bergetar dan aku mengangkat telepon yang sedari tadi ternyata sudah empat panggilan masuk tanpa aku sadari. “Dimas lagi dimana? Ini bisnya di depan Unpad,” aku mendengar suara ayahku yang senyap-senyap dikalahkan oleh bisingnya keramaian prosesi pagi ini. “Ini lagi di depan ruangan prosesinya,” jawab aku. Belum sempat aku bertanya mereka lagi dimana, tiba – tiba suara hilang. “duh kenapa mati disaat penting kayak gini,” kesalku sambil mencoba menyalakan telepon genggamku yang tiba-tiba mati. “oh iya, kok mereka naik bis? Kenapa gak bawa mobil aja,” batinku. Tidak terasa prosesi akan segera dimulai. Panitia wisuda seperti tidak ada lelahnya mengajak para peserta masuk ke dalam ruangan untuk memulai prosesi. Layaknya induk ayam yang bertemu dengan anak-anaknya, para peserta wisuda seperti asyik sendiri bercengkrama dengan keluarga mereka tanpa memperdulikan panggilan panitia. Akan tetapi, hanya aku yang sedari tadi seperti anak ayam kehilangan induk. Berkali-kali aku mengalihkan setiap pandangan, namun belum menemukan keluargaku. Belum selesai mencari, panggilan panitia semakin tegas untuk meminta peserta memasuki ruangan. Aku pun mau tidak mau harus masuk juga tanpa berbincang-bincang atau hanya sekadar bertatap muka dengan keluarga yang aku sayangi.

            Prosesi dimulai berjalan dengan lancar disertai dengan tepuk tangan yang riuh bersautan. Satu per satu peserta dipanggil untuk naik ke podium untuk menerima sebuah map yang menjadi idaman setiap mahasiswa sarjana. Lalu acara dilanjutkan dengan persembahan vokal yang merdu dari paduan suara mahasiswa. Tidak ketinggalan beberapa perwakilan peserta juga menyerahkan secara langsung bunga kepada ibu mereka sebagai tanda terima kasih atas pengorbanan yang telah mereka berikan. Lantunan indah dari lirik lagu yang berjudul “Bunda” bersenandung mengisi sudut-sudut ruangan. Suasana haru mengisi atmosfer di ruangan ini. Isak tangis berderai tak tertahankan sebagai tanda syukur atas kelulusan kami dan rasa terima kasih kami atas dukungan yang telah diberikan orang tua kami.

            Lapangan parkir tampak penuh setelah prosesi ditutup. Akan tetapi, bukan dipenuhi oleh kendaraan melainkan dipenuhi dengan para peserta prosesi dan keluarga mereka yang tampak asyik saling bercengkrama satu sama lain. Dari kejauhan akhirnya aku melihat keluargaku yang sedang bercanda tawa dengan sekolompok orang yang aku tahu merupakan teman kerja ayahku. “ternyata bawa teman-teman kantornya juga, pantesan naik bis,” aku tersenyum. Selang beberapa menit aku menatap mereka. aku melihat dari kejauhan hanya ayahku yang sudah menyadari keberadaanku. Beliau mengalihkan perhatiannya dan menatap dari jauh anaknya yang sedari tadi mencarinya. Aku melihat senyuman yang hangat terpancar dari raut mukanya. Kami masih saja menatap satu sama lain dari kejauhan. Untaian kata yang tidak terucap, namun bisa kurasakan bergema di relung hatiku
“selamat ya Dimas, semoga menjadi dokter yang baik. Maaf kalo kita gak bisa berbincang satu sama lain. Suatu saat nanti, di lain kesempatan mungkin kita akan bertemu lagi. Saling bertukar cerita dengan kamu, mama, dan juga adik kamu.”

Aku terbangun...
Mencoba menafsirkan apa yang baru saja aku alami...
Ternyata hanya mimpi...
Allah...

            Klise-klise masa lalu seperti membanjiri ingatanku. Aku tersenyum dalam isak tangis. Air mata penuh rindu dan juga sedih yang tidak tertahankan menetes perlahan. Tersadar sudah 4 tahun aku tidak bertemu dengannya setelah beliau benar-benar tertidur sebelum sempat aku untuk sekadar mengatakan, “aku diterima di kedokteran Unpad, aku akan jadi dokter.” Aku sangat menyayangi ayahku, seseorang yang jarang sekali menampakkan wajah lelah di depan anaknya. Seseorang yang tidak pernah sedikitpun menyerah atas impianku untuk menjadi dokter. Bukan hanya impianku, melainkan impian kami. Namun, takdir berkata lain. Tepat seminggu sebelum aku menjalani SNMPTN Sang Kuasa memanggilnya.

Jam tangan menunjukkan pukul 02:30. Aku bergegas untuk mengambil wudhu...
“Aku akan memberikan kado untuknya malam ini,” benakku sambil tersenyum..


Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Reff :
Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

Ada Band: Yang Terbaik Bagimu
            

Thursday, 21 August 2014

Harapan Akan Selalu Ada


Isak tangis...
Teriakan....
Sesak...

Jika di dunia ini tidak terdapat “cinta” mungkin tidak ada kesedihan akan sebuah penderitaan orang yang dikasihi. Jika di dunia ini tidak terdapat “harapan” mungkin tidak ada usaha dan doa yang terpanjatkan dari bibir yang kelu oleh isak tangis

Waktu menunjukkan pukul 11.11 WIB di suatu poliklinik RSUD di Kabupaten Bandung. Suasana tampak seperti biasanya, hilir mudik ibu-ibu atau bapak-bapak yang membawa anaknya untuk berobat. Mereka tampak sabar menunggu untuk mendapatkan giliran.Seorang ibu yang terpanggil namanya pun menghampiri meja.

 “Kenapa bu anaknya?”

            “ini dok, anak saya demam sudah 2 hari, tiba-tiba saja dingin begini”
Saya pun memegang lengan dan kakinya yang terasa semakin dingin. “Apa mungkin hipovolemic shock? Coba cek nadinya deh,” pikir saya. Nadi yang teraba lemah semakin menuju indikasi apa yang saya pikirkan. Saya pun mencubit bagian kulit untuk mengecek capillary refill time (waktu yang dibutuhkan darah dalam mengisi pembuluh darah kapiler). Saya pun terkaget ketika melihat pengisian darah kapiler sangat lambat. Tidak perlu berpikir panjang lagi kami pun membawa anak tersebut ke instalasi gawat darurat.

            Suasana IGD sangat ramai kala itu, dan kebetulan hanya ada satu brangkar yang kosong. Kini dihadapan kami tergeletak seorang anak yang terlihat semakin lemah bahkan air mata pun tidak keluar dikala dia menangis.

Kondisi hipovolemic shock adalah kondisi dimana pasien kehilangan cairan yang sangat banyak khususnya di pembuluh darah. Jika cairan menurun drastis di dalam pembuluh maka tekanan darah pun akan semakin lemah dan pertukaran oksigen serta metabolisme energi pun bisa semakin terganggu. Dalam hal ini pasien mengalami shock kemungkinan disebabkan oleh demam berdarah. Jika kalian mengetahui fase-fase demam berdarah maka ada yang namanya fase kritis, fase dimana pasien demam berdarah dengue mengalami penurunan suhu yang dikarenakan kebocoran cairan di pembuluh darah. Inilah yang dialami oleh pasien kami saat ini.

Cairan infus dan beberapa peralatan untuk memasukkan cairan pun sudah disiapkan oleh perawat. Perawat yang lebih senior mencoba untuk memasukkan jarum infus ke salah satu pembuluh darah vena di kaki, namun kali ini sepertinya gagal. Selanjutnya jarum infus diganti dengan yang lebih baru. Perawat yang lain mencoba untuk memasukkan jarum infus ke bagian pembuluh darah yang lain, namun tetap gagal. Berkali kali terus mencoba dan terasa semakin sulitnya jarum infus untuk masuk ke dalam salah satu pembuluh darah.

Saya pun memang menyadari betapa sulitnya untuk memberikan cairan infus pada pasien shock . bisa dibayangkan pembuluh darah sangatlah elastis. Lalu, tahukah apa yang terjadi jika seseorang mengalami kekurangan cairan yang berlebihan? pembuluh darah pun akan semakin sempit karena sedikitnya cairan yang mengisi pembuluh dan selang infus pun akan semakin sulit untuk dimasukkan.

Kami terus berpacu dengan waktu untuk menyalamatkan seorang anak yang semakin kehilangan kesadaran. Pertolongan pertama pada pasien ini hanyalah dengan memasukkan cairan lewat pembuluh darah. Namun, sudah setengah jam kami belum bisa membuka rute cairan infus ke dalam pembuluh darah. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa pasien ke ruang operasi untuk diinfus oleh yang lebih ahli yaitu dokter spesialis anestesi.

Dalam perjalanan menuju ruang operasi saya melihat betapa anak ini sangat membutuhkan cairan. Bahkan sejak daritadi, terlihat lemahnya tubuh sampai-sampai menangis pun sudah tidak mampu. Sejak dari tadi pula seorang ibu yang terlihat semakin murung dan terisak dikala anaknya berkali kali berteriak dimasukkan jarum infus. Bagaimana jika anak kita sendiri yang mengalami demikian?

Sesampainya di ruang operasi keadaan semakin mencekam. Kami bekerja pun seperti terasa sesak oleh meningkatnya denyut jantung yang terus terpacu karena rasa kecemasan kami. Anak ini semakin terbaring lemah dan terlihat seperti mengantuk akibat kesadaran yang semakin menurun karena kurangnya asupan ke otak. Sekali lagi, anak ini hanya butuh jalur cairan terbuka, namun berkali-kali pun sampai dokter anestesi pun belum bisa untuk membuka jalur tersebut. Ibu dari anak ini semakin menangis tak tertahankan, bagaimana tidak, dipanggil namanya pun anak ini sudah tidak bisa berespons. Sesekali kami seperti terlihat semakin menyerah karena letih yang menghampiri. Sampai untuk memasukkan cairan lewat sumsum tulang pun sudah dilakukan namun hampir semua jarum yang dipakai bengkok ketika mencoba melewati tulang.

Dada saya semakin sesak...
Beberapa kali saya diperingatkan untuk tidak mengeluarkan air mata oleh dokter pembimbing saya yang bahkan beliau sendiri terlihat semakin sembap matanya.

Detik demi detik....
Menit demi menit..
Kejaiban tiba-tiba terjadi....
Tahukah kawan? Seorang anak yang lemah bahkan tidak bisa menangis lagi tiba-tiba menengok ke sebelah kiri dibarengi dengan tangisan yang melengking. Pada saat itu seraya anak itu coba menunjukkan bahwa masih ada pembuluh darah di leher yang masih besar dan terlihat. Anak itu sekali lagi menangis dan pembuluh darah di leher pun semakin terlihat karena tangisan yang membuat anak ini mengedan. Saat itu pula, dokter ahli anestesi tersadar sambil meminta perawat untuk mengambil jarum infus.

Ya Allah Maha Besar Engkau
Inilah harapan, inilah buah dari cinta seorang ibu yang terus mendoakan anaknya

Selang infus akhirnya terpasang di leher. Cairan infus dibiarkan dipercepat tetesannya untuk memenuhi kebutuhan cairan anak ini. Dalam waktu 15 menit kesadaran anak ini kembali pulih dan kembali menangis. Anak ini mungkin tidak tahu apa yang terjadi, tapi siluet siluet jarum, darah, teriakan tangis, dan bahkan fenomena-fenomena menuju kematian yang terpampang di depan mata, terekam dengan sangat jelas oleh ibu anak ini.     

Saya masih bersama dokter pembimbing saya, menemani seorang ibu yang sedang mengelus-elus anaknya. Kami mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Isak tangis kembali menyelimuti ibu ini ketika kami menceritakan secara detail jika terlambat sedikit saja anaknya dibawa ke rumah sakit. Namun, saya merasakan inilah isak tangis penuh syukur dari seorang ibu atas keselamatan dari anak yang dicintainya. Inilah buah dari doa yang tiada henti dipanjatkan serta usaha tanpa henti untuk mengejar harapan.


Jika di dunia ini tidak terdapat “cinta” mungkin tidak ada kesedihan akan sebuah penderitaan orang yang dikasihi. Jika di dunia ini tidak terdapat “harapan” mungkin tidak ada usaha dan doa yang terpanjatkan dari bibir yang kelu oleh isak tangis

  

Wednesday, 23 July 2014

Kami Selalu Menyayangi Kalian



Oleh Dimas Febrian Purnomo
Bandung, 23 Juli 2014
Pukul 17.11 WIB

Menapaki satu demi satu anak tangga
Tak risau kalian mencoba dengan berbagai cara
Kalian pun terjatuh, diikuti dengan tangisan penuh manja
Menampakkan lemahnya tubuh, lagi tak berdaya

Air mata terurai
Namun, itu hanya sebuah respons dari tubuh yang terlukai
Perlahan tapi pasti
Kalian mulai menmpakkan raut wajah yang berseri

Bukan tanpa alasan sebuah perubahan wajah yang tampak berseri
Kami, orang dewasa pun mungkin tak mengerti
Bahwa di balik tubuh yang mungkin belum bisa berdiri
Tersimpan angan-angan yang bertajuk untaian mimpi-mimpi

Kalian pun mulai kembali menapaki anak tangga dengan mantap
Satu dua, satu dua, satu dua, hap hap hap
Melupakan klise-klise tangisan yang membuat mata sembap
Dengan kepala menghadap ke atas, seakan angan dengan kalian saling menatap

Selang beberapa menit kemudian
Tiba-tiba kalian terdiam
Kami pun orang dewasa hanya bertanya-tanya
Ada apa dengan kalian? Kenapa?

Tersenyum...
Tertawa kegirangan...
Sekali lagi kami orang dewasa hanya bertanya-tanya
Ada apa dengan kalian? Kenapa?

Tak ada kata yang terucap, namun kami mulai mengerti
Senyum dan tawa kalian memberikan arti tersendiri
Seakan-akan kalian mencoba menunjukkan kepada kami
Betapa bahagianya kalian ketika telah mencapai anak tangga tertinggi

Senyum kalian menunjukkan keikhlasan
Langkah kalian menunjukkan perjuangan hidup tanpa henti
Tahukah betapa irinya kami dengan kalian?
Terhadap sesosok manusia dengan hati dan pikiran yang belum ternodai

Teruslah tersenyum anakku, walau usia kalian semakin menua
Teruslah melangkah anakku, walau berbagai rintangan menerpa
Teruslah bermimpi anakku, walau kalian belum bisa berbuat apa-apa
Dan teruslah buktikan anakku, bahwa kalian adalah anak-anak kebanggaan Indonesia

Kami....
Para orang dewasa...
Selalu menyayangi kalian...
Seutuhnya..

Thursday, 13 February 2014

Menepis Keraguan


Menepis Keraguan
(Oleh: Dimas Febrian Purnomo)
Jakarta, 13 Februari 2014

Hati terbelenggu
Menampilkan potret janji-janji usang
Terlunta ku menatap klise-klise itu
Yang semakin lama menenggelamkan idealitas

Tersadar betapa menyedihkannya diri ini
Panjang angan pendek tindakan
Mudah tertatih dengan segala keraguan ini
Seolah pasrah menghempaskan badan

Hati ini semakin tersadar
Bahwa hidup ini adalah pilihan
Memilih untuk terus terkapar
Atau terus mengalirkan darah perjuangan

Ya Allah, kami menyadari tubuh ini memiliki keistimewaan
Kami juga menyadari hati ini terwujud untuk memuliakan
Namun, kemanakah kami harus melakukan tindakan?
Ketika setiap pasang bola mata terus mengekspresikan kejenuhan

Ya Allah, bangkitkanlah kami dari kubur kefanaan
Kami rindu akan sebuah perjuangan
Kami rindu akan sebuah kemenangan
Dan kami rindu, akan sebuah senyum keikhlasan
Pada setiap kematian

Tuesday, 28 January 2014

Logika vs Fakta = Prasangka Baik? Prasangka Buruk?


Bandung, 28 Januari 2014
Pukul 05.19 WIB 

Pernahkah kita memikirkan ada suatu waktu dimana kita ingin dilihat lebih keren dalam hal apapun. Termasuk bagaimana cara kita mengkritisi perpolitikan atau pemerintahan di indonesia dengan cara menilai tokoh-tokoh politik atau bisa juga dengan melihat bagaimana jalannya proses pemerintahan di indonesia. Atau pernahkah terpikirkan seberapa bodohnya diri kita yang sebenarnya tidak tahu mengenai hal tertentu terkait dengan fakta-fakta yang ada tetapi kita bumbui dengan “cara berpikir logis” sedikit sehingga hal tersebut menjadi sesuatu yang lumrah terjadi di lapangan.

“Secara logika ada gula ada semut, tetapi bisa juga kan fakta yang terjadi tumpahan gula tersebut pada waktu tertentu malah dikerubungi lebah atau hewan lainnya?”

            Ada hal yang saya takutkan kawan ketika kita menjadi seorang mahasiswa yang “katanya” memiliki intelektualitas yang tinggi. Saya takut ketika kita menilai hal-hal yang terjadi di lapangan khususnya pemerintahan atau politik tidak sesuai dengan fakta yang ada atau apa yang kita nilai tidak berdasarkan pengetahuan yang mendalam tentang tema tersebut. Contoh misalnya Pak Jokowi yang selama ini terkenal dengan pencitraannya yang bagus di media. Ketika banjir di Jakarta sedang melanda teman saya bilang, “tuh lihat jokowi cuman baik di pencitraan dengan gayanya yang menyentuh masyarakat menengah kebawah agar mendapat suara pemilu, Ridwan Kamil yang bagus aja malah gak disorot.” Dari kalimat tersebut ada yang saya ingin tanyakan sebenarnya ke orang yang membuat statement itu, apakah dia ketika melihat Pak Jokowi di TV sudah ditanyakan langsung ke beliau, misalnya, “pak, bapak lagi pencitraan biar dapat suara pemilu, apa bener bener lagi mau bantu orang pak?” Kebayang kan kalo misalnya ternyata orang yang membuat statement tersebut menyuarakan pemikirannya ke orang lain? Tidak masalah dengan statementnya, karena saya pun juga tidak tahu kebenarannya seperti apa. Akan tetapi, alangkah indahnya bukan jika kita menjadi pribadi yang senantiasa berhusnudzan (berprasangka baik). Secara “logika” bisa saja statement itu terjadi, tetapi jika fakta yang terjadi belum jelas tidak perlu diumbar-umbarkan bukan? Kalo misalnya apa yang kita pikirkan secara logika tidak sesuai dengan fakta dan justru kita umbar-umbarkan, bukannya justru menjadi fitnah?

            Dari contoh di atas saya menilai bahwa jangan sampai kemampuan cara berpikir logis kita membuat kita berprasangka yang tidak-tidak. Fenomena krisis kepercayaan terhadap pemerintah bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah yang harus memperbaiki citra, tetapi seyogyanya perbaiki diri sendiri terlebih dahulu untuk menjadi pribadi yang suka berprasangka baik. Urusan niat pemimpin kita ketika bekerja apakah baik atau tidak menjadi urusan Allah bukan? Yang mengetahui isi hati setiap hambanya ^_^

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang” (QS Al-Hujarat:12)

Wednesday, 15 January 2014

Terima Kasih Jatinangor


Jatinangor, 15 Januari 2014
Pukul 05:32

Aku terbangun dalam tidur lelapku. Kudapati cahaya menyibak diantara sela-sela jendela. “Haduh, lagi-lagi ketiduran setelah solat subuh,”batinku. Hujan masih saja mengguyuri beberapa bagian kota ini. Alunan rintik gemercik yang membentur genting rumah-rumah seakan memberikan simfoni nada tersendiri pada pagi yang sangat dingin di kota ini.

Bangun....
Menatap keluar...

“Sudah sedikit berubah ya,” aku tersenyum lagi. Tidak terasa memang kehidupan ini berjalan dengan cepatnya. Sebuah saksi bisu dari sebuah kota yang sedikit demi sedikit menarik hatiku untuk tetap tinggal  Kota yang meninggalkan sejuta kenangan terhadap seorang anak rantau yang awalnya tidak tahu apa-apa, sekarang sudah setengah jalan untuk mengejar impian profesinya.

Memejamkan mata...
Menghirup nafas dalam-dalam...

Keindahanmu, melukiskan sejuta guratan warna dibenakku. Beratus ornamen-ornamen kehidupan yang ada di kota ini mulai dari keindahan alam, kebaikan masyarakat kota ini yang menjunjung toleransi, dan atmosfer ketenangan yang membantuku dalam proses belajar, menjadikan arsip memori yang tersimpan rapi secara khusus di bagian korteks otakku.
Namun, sebentar lagi aku akan berpisah dengan kota ini. Hati kecilku membisikanku untuk tetap tinggal, tapi apa daya karena aku harus melanjutkan studiku. Sesungguhnya tak terpikirkan olehku untuk tinggal di Bandung. Kota yang padat, berpolusi, dan geng motor, tiga faktor yang membuatku semakin tak berminat untuk tinggal disana.

Tersenyum...
Teringat akan sebuah janji...

Tahukah kawan? Aku pernah berjanji ketika aku jadi dokter nanti ingin menemui mereka. Mereka yang membantu kelancaran proses pengerjaan skripsiku, para kader posyandu yang mencurahkan segala keikhlasannya untuk membantu seorang anak yang mungkin merepotkan mereka. Mereka mengajarkan aku tentang kehidupan masyarakat Jatinangor yang sesungguhnya. Mereka menceritakan banyak kisah akan perjuangan dan dinamika yang menjadi roda perputaran kehidupan masyarakat Jatinangor. Aku masih ingat ketika selesai kegiatan posyandu di desa cipacing pada jamuan makan siang yang disiapkan oleh ibu kader.
“Dimas ternyata orang jawa toh, yah abis jadi dokter gak balik ke jatinangor dong,” kata seorang ibu kader.
“Niatnya memang saya mau mengabdi di tempat kelahiran saya bu. Akan tetapi, sempat terpikirkan oleh saya, setelah sumpah dokter mau memberikan edukasi tentang deteksi dini balita pendek di Jatinangor bu, kebetulan kan skripsi saya tentang itu,” kataku sambil tersenyum.
“Wah bagus tuh Dimas, bener ya nanti kesini lagi, nanti kita makan-makan kayak gini lagi. Sok lah jadi dokter cepet-cepet,” Ibu bidan tertarik ke pembicaraan.
“Siap bu, insyaAllah saya akan makan banyak, masakannya enak bu,” seisi ruangan tertawa.
“Kalo bisa pas balik ke Jatinangor ibu kenalin juga ke anak ibu,” ledek ibu bidan.
Seisi ruangan tertawa lagi. Aku hanya bisa tertunduk malu sambil tersenyum. “Baiknya ibu-ibu disini, terima kasih ya bu udah bantu banyak,” kataku dalam hati

Jatinangor, semoga kamu masih sanggup memberikan kesejukkan kepada mahasiswa-mahasiswa di sini ya untuk sekian tahun kedepan. Aku berterima kasih sekali karena Allah telah mengenalkan kota ini dalam kehidupanku. “ Oh iya, Harus siap-siap nih, nanti mau ke RSHS buat ngumpulin jurnal,” batinku. Keasyikan merenung membuatku tidak menyadari jika waktu sudah menunjukkan pukul 06:41 WIB. Mungkin terlalu cepat, tapi aku hanya ingin bilang, “Aku menyukai kota ini layaknya aku menyukai suasana rumahku sendiri ^_^”

Terima kasih Jatinangor.....